Skip to main content
Diskusi Proyek

Panduan Teknis

Solusi Penanganan Stabilitas Lereng pada Proyek Jalan

Kolase pekerjaan survei dan desain lereng: pengukuran, kondisi lereng, model 3D, dan potongan

Proyek jalan di kawasan berbukit hampir selalu bersinggungan dengan lereng, baik lereng galian di sisi dalam maupun lereng timbunan di sisi luar. Lereng yang tidak stabil dapat longsor, merusak badan jalan, dan menimbulkan biaya perbaikan. Berikut tahapan umum penanganannya. Setiap lokasi berbeda, sehingga penanganan akhir harus mengacu pada kajian khusus di lokasi tersebut.

1. Kenali kondisi geologi dan geomorfologi lokasi

Langkah awal adalah kajian kondisi geologi dan geomorfologi: jenis batuan atau tanah, bentuk lahan, kemiringan alami, serta tanda-tanda pergerakan tanah. Kajian awal ini membantu menentukan bagian lereng yang paling berisiko dan data apa yang masih perlu dikumpulkan.

2. Dapatkan data topografi yang akurat

Geometri lereng, yaitu tinggi, sudut, dan bentuk penampangnya, harus diukur dengan baik. Survei topografi dengan GNSS RTK, total station, atau drone menghasilkan kontur dan penampang yang menjadi dasar analisis. Tanpa data ini, hasil analisis kestabilan sulit dipercaya.

3. Lakukan analisis stabilitas lereng

Analisis stabilitas lereng menilai seberapa besar lereng mampu menahan gaya yang membuatnya bergerak, berdasarkan karakteristik mekanika tanah dan geometri lereng. Hasilnya menjadi dasar untuk memutuskan apakah lereng aman, perlu diubah bentuknya, atau perlu penanganan tambahan.

4. Rekayasa geometri lereng

Salah satu pendekatan umum adalah mengatur ulang geometri lereng, misalnya membentuknya bertingkat dengan sudut yang lebih landai. Perubahan geometri berarti ada volume tanah yang digali dan ditimbun, sehingga perhitungan cut and fill perlu dilakukan agar pekerjaan tanah efisien.

5. Pastikan desain dapat dikerjakan di lapangan

Desain yang aman di atas kertas harus dapat dibangun. Pemeriksaan constructability, stake out untuk memindahkan desain ke lapangan, dan penyesuaian geometri ketika kondisi aktual berbeda dari asumsi merupakan bagian penting dari tahap ini.

6. Monitoring selama pekerjaan

Pemantauan rutin terhadap elevasi dan bentuk lereng selama pekerjaan berlangsung membantu mendeteksi penyimpangan sejak dini, sehingga rekomendasi penyesuaian dapat diberikan sebelum masalah membesar.

Contoh pengalaman kami

Pada proyek rehabilitasi lereng PT. SMKL di Batang, Jawa Tengah (2026) seluas 15 Ha, Geosurvey Rekaindo terlibat dalam rekayasa dan pembentukan geometri lereng eks longsor, dengan peran Survey & Monitoring Lead / Field Engineer. Keluarannya mencakup pemastian constructability desain geoteknik, daily monitoring dan stake out, serta rekomendasi penyesuaian geometri lapangan. Selengkapnya ada di halaman Proyek.

Layanan konsultasi geoteknik dan rekayasa geometri lereng kami bersifat dukungan sesuai kompetensi personel, data yang tersedia, dan ruang lingkup pekerjaan. Hubungi kami untuk mendiskusikan kondisi lereng di proyek Anda.

Baca Juga

Artikel terkait